Aku terinspirasi untuk nulis ini setelah baca artikel
tentang hidup hemat di Savvy Sugar.
Sebenarnya, hidupku nggak frugal-frugal
amat, tapi ya, setidaknya dengan input
yang setara dengan orang lain, aku mampu meraih output lebih banyak, he he ^_^
- Selalu bawa daftar belanja kalau pergi shopping.
Dengan daftar belanja, kita bisa
menghitung lebih dulu berapa kira-kira duit yang kita perlukan, dan dari situ
menetapkan prioritas barang apa yang perlu banget dibeli, semi-perlu, dan nggak
perlu-perlu banget. Selain itu, belanja tanpa daftar belanja hampir pasti
berarti kita bakal kelupaan beli sesuatu, dan justru membeli barang yang
sebenarnya nggak penting.
Secara pribadi, aku punya daftar
belanja Primer Bulanan, Sekunder, dan insidental. Primer Bulanan isinya
keperluan pokok setiap bulan, dan daftar ini ku-isi setiap kali suatu barang
habis dan perlu beli lagi, atau setiap kali aku merasa perlu beli barang baru
(jadi, daftar tidak dibuat tepat sebelum berangkat belanja). Daftar Primer
Bulanan ini yang kubawa belanja bulanan. Daftar Sekunder itu semacam Wish-List,
yang berisi barang-barang/hal-hal yang aku inginkan (tapi nggak butuh banget), dan jika situasinya tepat (misalnya diskon) aku akan beli. Daftar Insidental itu isinya barang-barang yang hanya bisa
dibeli di suatu lokasi tertentu yang tidak kukunjungi secara rutin, sebagai
pengingat agar aku beli barang itu kalau pergi ke tempat itu. Contohnya, Pernak-Pernik dan Alat Jahit di Pasar Johar, dll.
Oh ya, aku tinggal di Kota Semarang, jadi contoh-contoh yang kuberikan juga dari sekitar Semarang (nggak gitu ngerti kota-kota lain, soalnya ^^')
- Member Card
Kalau rutin belanja di suatu
tempat, maka ada baiknya punya kartu member agar bisa beli dengan harga diskon.
Case in point, keluargaku beli
kerudung hanya di Rabbani (dan ini cukup signifikan karena ada empat cewek),
maka Ibuku punya kartu member-nya. Saat bikin Member Card mungkin kelihatan mahal, tapi kalau sering digunakan,
dalam jangka panjang akan kerasa murahnya. Waktu aku daftar member card ADA (supermarket di Jalan Setiabudi, Semarang), aslinya aku agak enggan-enggan gimanaaa gitu. Tapi sekarang potongan-potongannya secara kumulatif membuat belanjaanku lebih murah daripada tanpa member card (utamanya buat kosmetik, he he he)
- Belanja dalam jumlah besar, dan cermat cari barang murah.
Di setiap kota , ada beberapa tempat dimana harga barang
beli banyak jauh lebih murah daripada beli eceran atau harga barang yang sama
di tempat lain.
Di Semarang, misalnya. Untuk frozen food dan jenis-jenis kebutuhan sehari-hari lain, Ada
Setiabudi yang paling top, baik dari segi harga reguler eceran, harga beli banyak
(3 atau 6 item keatas), ataupun harga promo. Tapi untuk kaos kaki, daster, atau
underwear, Pasar Johar menang telak dalam
hal variasi produk, ke-murah-an, maupun kualitas. Sedangkan produk minuman, berdasarkan pengamatanku,
yang paling murah di Hypermart Java; dengan harga normal, harga kopi/teh instan
sekitar 1000-5000 rupiah lebih murah dibanding tempat lain, selain itu disana
juga sering ada diskon 50% untuk yogurt dan jus yang udah menjelang tanggal best-before.
Tentang tanggal best-before, nih, entah sudah padha tahu
atau belum. Best-before itu ya
artinya best-before, rasa paling baik
jika dikonsumsi sebelum tanggal tertera. Tapi, itu bukan berarti jadi berbahaya
kalau dikonsumsi setelah tanggal itu (asal ‘setelah’-nya itu nggak kelamaan,
nggak apa-apa). Beda halnya dengan tulisan ‘expired’,
yang artinya ‘kadaluwarsa’, dan berarti bahwa kalau digunakan setelah tanggal
itu, bisa jadi berbahaya. Jadi, perhatikan baik-baik apakah yang tertulis di produk itu best-before atau expired. Nggak perlu buru-buru buang barang cuma karena baru sehari lewat best-before, itu masih oke, kok.
- Beli buah yang sudah tua dan berharga murah, lalu diolah, dan dimasukkan kulkas.
Harga buah segar semakin lama
semakin mahal, padahal kan
konsumsi buah itu penting banget. Solusinya, beli buah yang sedang musim atau
yang sudah tua, mereka sering dijual
dengan harga lebih murah; di Hypermart sering ada diskon 50% untuk barang
nyaris kadaluarsa, penjual buah di pasar ya sering bisa kasih murah kalau buah
sudah tua.
Lalu, sampai dirumah, sisihkan
sebagian buah yang bisa dimakan dalam dua-tiga hari ke depan, lalu sisanya diolah
jadi semacam selai atau manisan dulu trus dimasukkan wadah steril, disimpan di
refrigerator. Buah tua yang aslinya cuma bakal tahan dua-tiga hari sebelum
busuk, life expectancy-nya bisa
diperpanjang hingga satu minggu atau satu bulan (selai di refrigerator ‘kan tahan lama). Padahal
gizinya…well, oke, ada tambahan
gula-nya, tapi kualitas lain-nya kan
dapat.
- Pengen baju baru? thrift store, dong.
Orang sering meremehkan pakaian
owol (sering juga disebut awul-awul), padahal banyak diantaranya berkualitas jauh
lebih bagus daripada pakaian dari mall, modelnya nggak kalah cute, merupakan pakaian baru (masih ada
tag-nya), dari brand luar yang terkenal, dst, dst, padahal harganya jauuuh lebih
murah dibanding baju fresh dari toko. Dengan uang 100rb rupiah, kalau kita ke
toko belum tentu dapat satu stel, paling pol juga cuma cukup buat dua potong
baju; tapi di owol, dengan 100rb bisa dapat sampai 10-20 potong. Modalnya hanya
teliti. Output-nya? asal kita nggak
bikin pengumuman, nggak bakal ada yang tahu kita beli tu baju dimana.
- Langganan toko buku bekas dan pameran buku
Banyak yang jarang membaca dengan
alasan harga buku mahal. Padahal sebenarnya buku itu murah –kalau emang niat
baca dan nggak malu menyatroni toko buku bekas dan pameran buku. Novel detektif
Agatha Christie, misalnya, kalau beli fresh
dari toko buku bisa 40ribu keatas; padahal di toko buku bekas paling-paling
5ribu-10ribuan. Beli buku bekas itu juga termasuk upaya hidup ramah lingkungan, lho :)
Buat kita yang nggak masalah baca buku di laptop dan atau
ponsel, di net juga tersedia banyak banget free
e-book (baik legal maupun illegal) yang kalau beli hardcopy-nya bakal menghanguskan kantong kita. Udah berapa tahun
ini aku nggak mampir pameran lagi karena kebutuhan buku-ku sudah dipenuhi oleh free e-book.
- Buy Generic Medicine
Kenali obat-obatan apa aja yang
kita butuhkan, lalu beli versi generik-nya. Obat generik jauuuuh lebih murah
daripada yang ber-brand name, padahal kandungannya biasanya sama saja. Hanya
dengan mensubstitusi Promag dengan Antasida dan Mylanta dengan Antasida Cair,
kita bisa hemat sekian ribu rupiah per-bulan (khususnya buat penderita Maag yang males makan).
Oh ya, terkait dengan obat-obatan, aku
jadi ingat bahwa aku lumayan prihatin dengan kebiasaan orang-orang yang sakit
apa dikit, sebentar-sebentar minum Antibiotik. Perlu diperhatikan bahwa
Antibiotik itu bukan obat yang bisa dipakai sembarangan, dan juga bukan obat
super. Minum Antibiotik hanya jika suatu penyakit yang bersumber dari makhluk
hidup lain (‘biotik’) nggak sembuh-sembuh dalam jangka waktu lama (seminggu
atau lebih) atau jika disuruh dokter (jangan asal beli sendiri). Begitupun,
penggunaan Antibiotik yang terlalu sering atau terhenti di tengah jalan, bisa
melemahkan ketahanan tubuh dan bahkan bisa mengakibatkan anda menderita
macam-macam alergi, karena tubuh jadi bingung mengenali mana penyusup dengan
niat buruk dan mana yang datang damai untuk membantu kita.
- Masak sendiri.
Banyak yang beralasan sibuk,
nggak ada waktu masak, dst dst. Padahal kalau memang bisa masak, memasak itu
nggak makan waktu, kok. Bagian dari masak yang paling makan waktu itu cuma masak nasi, dan karena sekarang udah
ada rice cooker, alasan makan waktu
jadi nggak bisa dipakai lagi. Kuncinya: masak dalam jumlah besar, lalu masukin
kulkas. Masak cukup dua-tiga hari sekali, atau malah seminggu sekali. Di satu
hari yang longgar (Ahad, misalnya), masak beberapa jenis masakan sekaligus,
lalu simpan di kulkas. Dalam seminggu berikutnya, ambil saja dari kulkas, lalu dihangatkan beberapa menit di kompor atau magic jar. Tentu
saja, sebelumnya mesti punya banyak airtight
container; barang itu bisa jadi tempat untuk menyimpan apapun agar awet di
kulkas. Dan, pelajari serta pahami bagaimana cara menyimpan dan masa kadaluarsa
makanan.
Sebagai referensi, biasanya aku
merujuk pada artikel-artikel di RealSimple. Selain itu, untuk menyimpan beku,
aku merujuk buku “How to Freeze Fresh Food at Home” yang ditulis oleh Carolyn
Humphries. Aku nggak tahu apakah ada terjemahan buku itu di Indonesia atau enggak, tapi yang jelas e-book berbahasa Inggris-nya ada di bawah tanah (dan Amazon, tentunya).
- Rawat barang-barang sesuai dengan seharusnya
Orang sering menyepelekan
perawatan barang, padahal itu bisa berdampak panjang pada isi kantong mereka.
Baju yang dicuci sesuai dengan instruksi-nya, misalnya, bakal lebih awet
daripada baju yang dicuci asal-asalan, campur antara warna-nggak warna, dijemur
tanpa dijepit hingga beterbangan, dst. Begitu juga alat elektronik, perabot,
dll
- Buat dapur hidup
Kalau ada tempat buat
tanam-tanam, ada bagusnya menanam bumbu atau sayur sendiri. Aku nggak punya
tempat buat tanam-tanam, jadi ya, nggak banyak yang bisa kubicarakan soal ini.
- Olahraga rutin dan disiplin makan bergizi
Apa hubunganya? ow, hubungannya
erat sekali. Dengan badan sehat, biaya dokter dan obat juga berkurang, kan !? Barang-barang
elektronik yang mahal-mahal dirawat, badan kita yang nggak tergantikan pun
harus juga. Olahraga nggak harus menyita uang dan waktu; lari dan senam 30
menit-an setiap dua-tiga haris sekali juga sudah cukup (menurutku).
- Manfaatkan cyberspace se-optimal mungkin
Banyak hal yang butuh biaya
banyak di dunia nyata, disediakan secara free di net, mulai dari alat komunikasi
(Skype!), software, buku kuliah, fiksi, film, Cloud Storage, sampai dengan kursus bahasa asing. Jangan malu-malu untuk
cari di ‘pasar gelap’, kalau barang legal-nya berlabel harga.
Pada dasarnya, aku paham dan
menghargai HAKI. Aku pernah nulis soal itu, juga terima materi kuliah soal itu,
aku pun nggak suka kalau tulisanku dibajak orang. Tapi, ya, katanya ‘kan all’s fair in love and war, dan pembajakan ini, adalah bagian dari war to live frugal XD Akan tetapi sebenarnya, alasan bagi kita untuk cari buku di bawah tanah itu bukan cuma penghematan, melainkan juga 'kelangkaan'. Buku keren dari Carolyn Humphries yang kusebutkan diatas, misalnya, sejauh yang kutahu baik e-book ataupun buku fisiknya nggak terbit resmi di Indonesia; so, what should I do, but obtain it illegally? And I think, so long as I don't sell it or use it for commercial purposes, then it's okay (see, I even don't give the underground link publicly in this post)
- Learn How to DIY
Orang sering meremehkan skill
semacam menjahit, utak-atik alat listrik, atau pertukangan sederhana. Di
sekolah misalnya, keterampilan ‘dunia nyata’ semacam itu dikesampingkan oleh
pengetahuan tekstual. Padahal, skill semacam itu sangat bermanfaat dalam hidup
hemat. Memperbaiki baju robek yang bisa diselesaikan dengan jarum dan benang
dalam lima menit, atau mengganti karet celana
yang udah molor, misalnya, bakal menghabiskan sekitar lima ribuan atau lebih kalau dibawa ke tukang
jahit. Selain itu, kalau kita bisa DIY, kita juga bisa memperbaiki sendiri
barang BS; artinya, kita beli barang BS yang murah banget, lalu diperbaiki
sendiri untuk digunakan. Sejauh ini yang udah kutemukan adalah baju kodian BS
dengan harga lebih murah sekitar 70-90% dari barang non-BS, tapi ada jahitan
lepas, kancing hilang, atau jenis kecacatan lain. Buatku sih no problem, tinggal ambil jarum dan
benang, beres.
- Reuse old stuff
Kalau udah tahu gimana caranya
DIY, maka bisa dipraktekkan lebih jauh dengan mengalih-gunakan barang-barang
bekas. Eks kardus kopi instan, misalnya, bisa disulap jadi penyangga buku di
rak (hemat berapa belas ribu, tuh). Butuh meja? cari kardus
eks-kertas di tempat fotokopi terdekat,
tata beberapa kardus seukuran, balut dengan kertas kado atau kertas coklat (kalau nggak modal banget, kertas koran juga oke), tutup dengan taplak, jadi
deh, meja barunya. Pengen hiasan dinding? print foto keluarga atau gunting gambar di
kalender lama, tempel pakai isolasi bermotif. Kaos kaki lawas yang kakinya udah
bolong-bolong, bisa digunting dan diberi insert, jahit dikit, lalu jadi cemplo
tahan panas buat ngangkat panci. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan
seterusnya…(peluang DIY itu luar biasa banyaknya sampai tak terkatakan,
batasnya cuma kreativitas kita aja).
- Pilih alat transportasi yang paling ekonomis
Aku sering prihatin ngelihat
anak-anak kuliah yang cuma mau beli makan di gang sebelah aja, pakai naik motor.
Jalan dikit, napa!? Hanya karena anda punya mobil/motor, itu bukan alasan untuk kemana-mana pakai kendaraan. Masih punya kaki, 'kan!? (kalau enggak, ya, oke, saya akui, memang sudah sewajarnya jalan-jalan pakai alat bantu...)
Diluar perkara ini, sebenarnya
pilihan alat transportasi bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Di
wilayah tengah kota
yang jalur transportasi mudah dan murah, misalnya, mungkin lebih baik naik
angkutan umum. Di daerah pinggiran atau gang nylempit yang jauh dari mana-mana, sepeda motor lebih tepat. Tentu
saja, itu dengan asumsi anda bisa naik motor. Kalau jadi orang nggak bisa naik
motor kayak aku, ya…nrimo saja: dekat, jalan kaki; jauh, kantong jebol buat bayar taksi.
- Seleksi Sampah
Hal yang bikin aku eneg banget di
banyak lingkungan adalah pengelolaan sampah yang payah. Sampah segala macam
ditumpuk jadi satu, berhari-hari nggak disingkirkan, baunya nggak jelas, berceceran
karena tempatnya kurang besar, segala macam makhluk kecil-kecil berkeliaran,
hiii… Apa repotnya sih, menerapkan seleksi sampah? Tinggal memisahkan sampah
plastik, kertas, botol, kaca, dan sejenisnya dari sampah organik, lalu jual ke
pengumpul. Caranya gampang banget, tinggal sediakan tiga atau empat tempat
sampah (nggak punya tempat sampah, plastik dan kardus bekas ya oke), dan selalu
buang sampah ditempatnya. Jangan remehkan the
power of garbage, lho ya; dengan melakukan pemisahan sampah, kita bukan
cuma ikut berpartisipasi dalam hidup ramah lingkungan, tapi juga dapet duit
sebagai ‘imbalan’ dari upaya kita.
Well, that’s all I can say about this. Semoga bermanfaat ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar