Senin, 15 Juli 2013

Telur Dadar Makaroni

Bahan (Untuk 1 Porsi):
  • 1 butir Telur
  • 1-2 sdm Tepung Bumbu (aku pakai Tepung Bumbu Sasa)
  • 25 gram Makaroni (aku pakai La Fonte Elbow Macaroni), rebus sesuai instruksi pada kemasan, lalu tiriskan
  • setengah sdt kecap ikan (atau 1 sdm kecap asin)
  • 1 siung Bawang Putih, cincang halus
  • Garam secukupnya

Cara Membuat:
  • Telur dikocok lepas, masukkan Tepung Bumbu, aduk rata.
  • Panaskan minyak di penggorengan, tumis Bawang Putih hingga harum.
  • Masukkan Makaroni yang telah direbus, aduk-aduk sejenak, beri kecap ikan atau kecap asin, aduk-aduk lagi beberapa saat, lalu angkat.
  • Tuang Makaroni ke dalam Telur yang telah dicampur dengan Tepung Bumbu, aduk rata. Tambahkan Garam sesuai selera, aduk.
  • Panaskan Penggorengan Teflon anti lengket, tuang campuran telur-makaroni, masak hingga matang. Jangan lupa membalik saat setengah matang. Angkat

Lebih Enak Kalau:
Disantap saat sarapan bersama Teh Hangat.

Disclaimer:
Please refer to me and this blog :)


Sambal Tempe

Bahan:
  • 2-3 siung Bawang Putih
  • sepertiga blok terasi (aku pakai ABC atau Mamasuka) yang telah dibakar
  • setengah sdt garam, atau sesuai selera
  • 15 buah cabe rawit hijau, atau sesuai selera
  • setengah nampan tempe ukuran kecil, atau setengah nampan tempe ukuran besar

Cara Membuat:
  • Tempe dipotong dadu, lalu goreng hingga keemasan (tapi jangan sampai terlalu kering atau gosong). Angkat, sisihkan.
  • Siapkan cobek ukuran sedang. Haluskan bawang putih, terasi, garam, dan cabe rawit.
  • Masukkan tempe yang telah digoreng ke dalam cobek, tumbuk halus bersama bumbu-bumbu.
  • Siap disajikan

Lebih Enak Kalau:
Disantap bersama nasi hangat dan buncis kukus.

Disclaimer:
Please refer to me and this blog :)

Kamis, 04 Juli 2013

15 Tips Hidup Hemat

Aku terinspirasi untuk nulis ini setelah baca artikel tentang hidup hemat di Savvy Sugar. Sebenarnya, hidupku nggak frugal-frugal amat, tapi ya, setidaknya dengan input yang setara dengan orang lain, aku mampu meraih output lebih banyak, he he ^_^

  • Selalu bawa daftar belanja kalau pergi shopping.
Dengan daftar belanja, kita bisa menghitung lebih dulu berapa kira-kira duit yang kita perlukan, dan dari situ menetapkan prioritas barang apa yang perlu banget dibeli, semi-perlu, dan nggak perlu-perlu banget. Selain itu, belanja tanpa daftar belanja hampir pasti berarti kita bakal kelupaan beli sesuatu, dan justru membeli barang yang sebenarnya nggak penting.
Secara pribadi, aku punya daftar belanja Primer Bulanan, Sekunder, dan insidental. Primer Bulanan isinya keperluan pokok setiap bulan, dan daftar ini ku-isi setiap kali suatu barang habis dan perlu beli lagi, atau setiap kali aku merasa perlu beli barang baru (jadi, daftar tidak dibuat tepat sebelum berangkat belanja). Daftar Primer Bulanan ini yang kubawa belanja bulanan. Daftar Sekunder itu semacam Wish-List, yang berisi barang-barang/hal-hal yang aku inginkan (tapi nggak butuh banget), dan jika situasinya tepat (misalnya diskon) aku akan beli. Daftar Insidental itu isinya barang-barang yang hanya bisa dibeli di suatu lokasi tertentu yang tidak kukunjungi secara rutin, sebagai pengingat agar aku beli barang itu kalau pergi ke tempat itu. Contohnya, Pernak-Pernik dan Alat Jahit di Pasar Johar, dll.
Oh ya, aku tinggal di Kota Semarang, jadi contoh-contoh yang kuberikan juga dari sekitar Semarang (nggak gitu ngerti kota-kota lain, soalnya ^^')  

  • Member Card
Kalau rutin belanja di suatu tempat, maka ada baiknya punya kartu member agar bisa beli dengan harga diskon. Case in point, keluargaku beli kerudung hanya di Rabbani (dan ini cukup signifikan karena ada empat cewek), maka Ibuku punya kartu member-nya. Saat bikin Member Card mungkin kelihatan mahal, tapi kalau sering digunakan, dalam jangka panjang akan kerasa murahnya. Waktu aku daftar member card ADA (supermarket di Jalan Setiabudi, Semarang), aslinya aku agak enggan-enggan gimanaaa gitu. Tapi sekarang potongan-potongannya secara kumulatif membuat belanjaanku lebih murah daripada tanpa member card (utamanya buat kosmetik, he he he)

  • Belanja dalam jumlah besar, dan cermat cari barang murah.
Di setiap kota, ada beberapa tempat dimana harga barang beli banyak jauh lebih murah daripada beli eceran atau harga barang yang sama di tempat lain.
Di Semarang, misalnya. Untuk frozen food dan jenis-jenis kebutuhan sehari-hari lain, Ada Setiabudi yang paling top, baik dari segi harga reguler eceran, harga beli banyak (3 atau 6 item keatas), ataupun harga promo. Tapi untuk kaos kaki, daster, atau underwear, Pasar Johar menang telak dalam hal variasi produk, ke-murah-an, maupun kualitas. Sedangkan produk minuman, berdasarkan pengamatanku, yang paling murah di Hypermart Java; dengan harga normal, harga kopi/teh instan sekitar 1000-5000 rupiah lebih murah dibanding tempat lain, selain itu disana juga sering ada diskon 50% untuk yogurt dan jus yang udah menjelang tanggal best-before.
Tentang tanggal best-before, nih, entah sudah padha tahu atau belum. Best-before itu ya artinya best-before, rasa paling baik jika dikonsumsi sebelum tanggal tertera. Tapi, itu bukan berarti jadi berbahaya kalau dikonsumsi setelah tanggal itu (asal ‘setelah’-nya itu nggak kelamaan, nggak apa-apa). Beda halnya dengan tulisan ‘expired’, yang artinya ‘kadaluwarsa’, dan berarti bahwa kalau digunakan setelah tanggal itu, bisa jadi berbahaya. Jadi, perhatikan baik-baik apakah yang tertulis di produk itu best-before atau expired. Nggak perlu buru-buru buang barang cuma karena baru sehari lewat best-before, itu masih oke, kok.
  • Beli buah yang sudah tua dan berharga murah, lalu diolah, dan dimasukkan kulkas.
Harga buah segar semakin lama semakin mahal, padahal kan konsumsi buah itu penting banget. Solusinya, beli buah yang sedang musim atau yang sudah tua,  mereka sering dijual dengan harga lebih murah; di Hypermart sering ada diskon 50% untuk barang nyaris kadaluarsa, penjual buah di pasar ya sering bisa kasih murah kalau buah sudah tua.
Lalu, sampai dirumah, sisihkan sebagian buah yang bisa dimakan dalam dua-tiga hari ke depan, lalu sisanya diolah jadi semacam selai atau manisan dulu trus dimasukkan wadah steril, disimpan di refrigerator. Buah tua yang aslinya cuma bakal tahan dua-tiga hari sebelum busuk, life expectancy-nya bisa diperpanjang hingga satu minggu atau satu bulan (selai di refrigerator ‘kan tahan lama). Padahal gizinya…well, oke, ada tambahan gula-nya, tapi kualitas lain-nya kan dapat.

  • Pengen baju baru? thrift store, dong.
Orang sering meremehkan pakaian owol (sering juga disebut awul-awul), padahal banyak diantaranya berkualitas jauh lebih bagus daripada pakaian dari mall, modelnya nggak kalah cute, merupakan pakaian baru (masih ada tag-nya), dari brand luar yang terkenal, dst, dst, padahal harganya jauuuh lebih murah dibanding baju fresh dari toko. Dengan uang 100rb rupiah, kalau kita ke toko belum tentu dapat satu stel, paling pol juga cuma cukup buat dua potong baju; tapi di owol, dengan 100rb bisa dapat sampai 10-20 potong. Modalnya hanya teliti. Output-nya? asal kita nggak bikin pengumuman, nggak bakal ada yang tahu kita beli tu baju dimana.

  • Langganan toko buku bekas dan pameran buku
Banyak yang jarang membaca dengan alasan harga buku mahal. Padahal sebenarnya buku itu murah –kalau emang niat baca dan nggak malu menyatroni toko buku bekas dan pameran buku. Novel detektif Agatha Christie, misalnya, kalau beli fresh dari toko buku bisa 40ribu keatas; padahal di toko buku bekas paling-paling 5ribu-10ribuan. Beli buku bekas itu juga termasuk upaya hidup ramah lingkungan, lho :)
Buat kita yang nggak masalah baca buku di laptop dan atau ponsel, di net juga tersedia banyak banget free e-book (baik legal maupun illegal) yang kalau beli hardcopy-nya bakal menghanguskan kantong kita. Udah berapa tahun ini aku nggak mampir pameran lagi karena kebutuhan buku-ku sudah dipenuhi oleh free e-book.

  • Buy Generic Medicine
Kenali obat-obatan apa aja yang kita butuhkan, lalu beli versi generik-nya. Obat generik jauuuuh lebih murah daripada yang ber-brand name, padahal kandungannya biasanya sama saja. Hanya dengan mensubstitusi Promag dengan Antasida dan Mylanta dengan Antasida Cair, kita bisa hemat sekian ribu rupiah per-bulan (khususnya buat penderita Maag yang males makan). 
Oh ya, terkait dengan obat-obatan, aku jadi ingat bahwa aku lumayan prihatin dengan kebiasaan orang-orang yang sakit apa dikit, sebentar-sebentar minum Antibiotik. Perlu diperhatikan bahwa Antibiotik itu bukan obat yang bisa dipakai sembarangan, dan juga bukan obat super. Minum Antibiotik hanya jika suatu penyakit yang bersumber dari makhluk hidup lain (‘biotik’) nggak sembuh-sembuh dalam jangka waktu lama (seminggu atau lebih) atau jika disuruh dokter (jangan asal beli sendiri). Begitupun, penggunaan Antibiotik yang terlalu sering atau terhenti di tengah jalan, bisa melemahkan ketahanan tubuh dan bahkan bisa mengakibatkan anda menderita macam-macam alergi, karena tubuh jadi bingung mengenali mana penyusup dengan niat buruk dan mana yang datang damai untuk membantu kita.

  • Masak sendiri.
Banyak yang beralasan sibuk, nggak ada waktu masak, dst dst. Padahal kalau memang bisa masak, memasak itu nggak makan waktu, kok. Bagian dari masak yang paling makan waktu  itu cuma masak nasi, dan karena sekarang udah ada rice cooker, alasan makan waktu jadi nggak bisa dipakai lagi. Kuncinya: masak dalam jumlah besar, lalu masukin kulkas. Masak cukup dua-tiga hari sekali, atau malah seminggu sekali. Di satu hari yang longgar (Ahad, misalnya), masak beberapa jenis masakan sekaligus, lalu simpan di kulkas. Dalam seminggu berikutnya, ambil saja dari kulkas, lalu dihangatkan beberapa menit di kompor atau magic jar. Tentu saja, sebelumnya mesti punya banyak airtight container; barang itu bisa jadi tempat untuk menyimpan apapun agar awet di kulkas. Dan, pelajari serta pahami bagaimana cara menyimpan dan masa kadaluarsa makanan.
Sebagai referensi, biasanya aku merujuk pada artikel-artikel di RealSimple. Selain itu, untuk menyimpan beku, aku merujuk buku “How to Freeze Fresh Food at Home” yang ditulis oleh Carolyn Humphries. Aku nggak tahu apakah ada terjemahan buku itu di Indonesia atau enggak, tapi yang jelas e-book berbahasa Inggris-nya ada di bawah tanah (dan Amazon, tentunya).

  • Rawat barang-barang sesuai dengan seharusnya
Orang sering menyepelekan perawatan barang, padahal itu bisa berdampak panjang pada isi kantong mereka. Baju yang dicuci sesuai dengan instruksi-nya, misalnya, bakal lebih awet daripada baju yang dicuci asal-asalan, campur antara warna-nggak warna, dijemur tanpa dijepit hingga beterbangan, dst. Begitu juga alat elektronik, perabot, dll

  • Buat dapur hidup
Kalau ada tempat buat tanam-tanam, ada bagusnya menanam bumbu atau sayur sendiri. Aku nggak punya tempat buat tanam-tanam, jadi ya, nggak banyak yang bisa kubicarakan soal ini.

  • Olahraga rutin dan disiplin makan bergizi
Apa hubunganya? ow, hubungannya erat sekali. Dengan badan sehat, biaya dokter dan obat juga berkurang, kan!? Barang-barang elektronik yang mahal-mahal dirawat, badan kita yang nggak tergantikan pun harus juga. Olahraga nggak harus menyita uang dan waktu; lari dan senam 30 menit-an setiap dua-tiga haris sekali juga sudah cukup (menurutku).  

  • Manfaatkan cyberspace se-optimal mungkin
Banyak hal yang butuh biaya banyak di dunia nyata, disediakan secara free di net, mulai dari alat komunikasi (Skype!), software, buku kuliah, fiksi, film, Cloud Storage, sampai dengan kursus bahasa asing. Jangan malu-malu untuk cari di ‘pasar gelap’, kalau barang legal-nya berlabel harga.
Pada dasarnya, aku paham dan menghargai HAKI. Aku pernah nulis soal itu, juga terima materi kuliah soal itu, aku pun nggak suka kalau tulisanku dibajak orang. Tapi, ya, katanya ‘kan all’s fair in love and war, dan pembajakan ini, adalah bagian dari war to live frugal XD Akan tetapi sebenarnya, alasan bagi kita untuk cari buku di bawah tanah itu bukan cuma penghematan, melainkan juga 'kelangkaan'. Buku keren dari Carolyn Humphries yang kusebutkan diatas, misalnya, sejauh yang kutahu baik e-book ataupun buku fisiknya nggak terbit resmi di Indonesia; so, what should I do, but obtain it illegally? And I think, so long as I don't sell it or use it for commercial purposes, then it's okay (see, I even don't give the underground link publicly in this post)

  • Learn How to DIY
Orang sering meremehkan skill semacam menjahit, utak-atik alat listrik, atau pertukangan sederhana. Di sekolah misalnya, keterampilan ‘dunia nyata’ semacam itu dikesampingkan oleh pengetahuan tekstual. Padahal, skill semacam itu sangat bermanfaat dalam hidup hemat. Memperbaiki baju robek yang bisa diselesaikan dengan jarum dan benang dalam lima menit, atau mengganti karet celana yang udah molor, misalnya, bakal menghabiskan sekitar lima ribuan atau lebih kalau dibawa ke tukang jahit. Selain itu, kalau kita bisa DIY, kita juga bisa memperbaiki sendiri barang BS; artinya, kita beli barang BS yang murah banget, lalu diperbaiki sendiri untuk digunakan. Sejauh ini yang udah kutemukan adalah baju kodian BS dengan harga lebih murah sekitar 70-90% dari barang non-BS, tapi ada jahitan lepas, kancing hilang, atau jenis kecacatan lain. Buatku sih no problem, tinggal ambil jarum dan benang, beres.

  • Reuse old stuff
Kalau udah tahu gimana caranya DIY, maka bisa dipraktekkan lebih jauh dengan mengalih-gunakan barang-barang bekas. Eks kardus kopi instan, misalnya, bisa disulap jadi penyangga buku di rak (hemat berapa belas ribu, tuh). Butuh meja? cari kardus eks-kertas di  tempat fotokopi terdekat, tata beberapa kardus seukuran, balut dengan kertas kado atau kertas coklat (kalau nggak modal banget, kertas koran juga oke), tutup dengan taplak, jadi deh, meja barunya. Pengen hiasan dinding? print foto keluarga atau gunting gambar di kalender lama, tempel pakai isolasi bermotif. Kaos kaki lawas yang kakinya udah bolong-bolong, bisa digunting dan diberi insert, jahit dikit, lalu jadi cemplo tahan panas buat ngangkat panci. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya…(peluang DIY itu luar biasa banyaknya sampai tak terkatakan, batasnya cuma kreativitas kita aja).

  • Pilih alat transportasi yang paling ekonomis
Aku sering prihatin ngelihat anak-anak kuliah yang cuma mau beli makan di gang sebelah aja, pakai naik motor. Jalan dikit, napa!? Hanya karena anda punya mobil/motor, itu bukan alasan untuk kemana-mana pakai kendaraan. Masih punya kaki, 'kan!? (kalau enggak, ya, oke, saya akui, memang sudah sewajarnya jalan-jalan pakai alat bantu...)
Diluar perkara ini, sebenarnya pilihan alat transportasi bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Di wilayah tengah kota yang jalur transportasi mudah dan murah, misalnya, mungkin lebih baik naik angkutan umum. Di daerah pinggiran atau gang nylempit yang jauh dari mana-mana, sepeda motor lebih tepat. Tentu saja, itu dengan asumsi anda bisa naik motor. Kalau jadi orang nggak bisa naik motor kayak aku, ya…nrimo saja: dekat, jalan kaki; jauh, kantong jebol buat bayar taksi.

  • Seleksi Sampah
Hal yang bikin aku eneg banget di banyak lingkungan adalah pengelolaan sampah yang payah. Sampah segala macam ditumpuk jadi satu, berhari-hari nggak disingkirkan, baunya nggak jelas, berceceran karena tempatnya kurang besar, segala macam makhluk kecil-kecil berkeliaran, hiii… Apa repotnya sih, menerapkan seleksi sampah? Tinggal memisahkan sampah plastik, kertas, botol, kaca, dan sejenisnya dari sampah organik, lalu jual ke pengumpul. Caranya gampang banget, tinggal sediakan tiga atau empat tempat sampah (nggak punya tempat sampah, plastik dan kardus bekas ya oke), dan selalu buang sampah ditempatnya. Jangan remehkan the power of garbage, lho ya; dengan melakukan pemisahan sampah, kita bukan cuma ikut berpartisipasi dalam hidup ramah lingkungan, tapi juga dapet duit sebagai ‘imbalan’ dari upaya kita.

Well, that’s all I can say about this. Semoga bermanfaat ^_^

Tahu Telur dengan Sambal Kacang

Resep ini simpel dan mudah banget untuk dibuat...asal sudah punya sambal kacang siap pakai :)

Bahan (Untuk 1 Porsi):
  • 1 butir Telur Ayam
  • 1 atau 2 bongkah Tahu Putih (kalau ukuran Tahu-nya besar, pakai 1 saja; kalau ukurannya kecil, ya pakai 2. Lha wong di industri Tahu tu nggak ada standar ukurannya, tho!?) 
  • 1 sdt Garam (atau sesuai selera)
  • seperempat sdt Merica
  • Sambal Kacang siap pakai (merk apa aja oke; dari pasar cakep, dari hypermart ya oke)
  • Cabai rawit hijau (sesuai selera)
  • Kecambah (optional)

Cara Membuat:
  • Membuat Tahu Telur: Kocok telur Ayam dalam mangkuk dengan garpu. Masukkan Tahu Putih ke dalam mangkuk, hancurkan perlahan dengan garpu. Masukkan Garam dan Merica. Aduk-aduk hingga Tahu lebur dan adonan rata. Siapkan wajan teflon, panaskan dengan sedikit minyak. Setelah siap, lalu masukkan adonan Tahu Telur. Tunggu sekitar 5 menit atau sampai tingkat kematangan yang dikehendaki, lalu balik, tunggu 2-3 menit, angkat dan sisihkan.
  • Membuat Sambal Kacang: Potong Sambal Kacang siap pakai sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, taruh di mangkuk kecil. Potong-potong cabai, masukkan kedalam mangkuk. Tuang air panas kedalamnya sedikit demi sedikit sambil dilarutkan Sambal Kacang-nya hingga tingkat kekentalan yang dikehendaki. Sisihkan
  • Penyajian: Rebus kecambah sekitar 3 menit di air mendidih, angkat, sisihkan. Siapkan piring, tata Tahu Telur dan Kecambah didalamnya, lalu siram dengan Sambal Kacang.

Lebih Enak Kalau:
disantap hangat-hangat saat hari hujan.

Disclaimer:
Hmm...Tahu Telur sebenarnya masakan yang sudah umum banget, jadi ndak bisa nge-klaim, but if you quote this post, please refer to me and this blog, okay !?

Minggu, 06 Januari 2013

Makaroni Kukus dengan Sayuran

Resep ini aslinya karena aku pengen banget makan Macaroni & Cheese, tapi nggak punya microwave/oven. Lalu kupikir, bikin cake kukus aja bisa jadi enak, tentunya Macaroni & Cheese kukus juga bisa dong. Trus jadilah eksperimen ini. Percobaan pertama gagal karena susu-nya kebanyakan dan keju-nya terlalu sedikit, tapi percobaan berikutnya lumayan oke (walau tetap nggak sebagus Mac&Cheese hasil microwave). Pengennya kuberi nama Steamed Mac & Cheese with Veggies biar kedengaran lebih asyik, tapi setelah timbang sana timbang sini, akhirnya kuberi titel Indonesia aja deh, biar lebih ramah lingkungan ^_^

Bahan (untuk 2 porsi):
  • 100 gram La Fonte Elbow Macaroni
  • 2 sdm susu bubuk low fat (aku pakai Dancow Calcium Plus) dilarutkan dalam 50 ml air
  • 20-30 gram keju cheddar (aku pakai Kraft)
  • setengah sdt garam
  • setengah mangkuk sayuran beku (aku pakai Golden Farm mixed vegetables yang buncis-nya sudah disingkirkan)
Cara Membuat:
  • Memasak Makaroni: Masukkan makaroni ke dalam 500 ml air mendidih. Didihkan diatas api kecil selama 8-10 menit sambil diaduk sesekali (agar makaroni-nya nggak lengket). Tiriskan, lalu taruh makaroni dalam mangkuk keramik atau pyrex atau bahan lain yang tahan panas.
  • Memasak Mac&Cheese: Masukkan susu, keju, dan garam kedalam mangkuk yang telah berisi makaroni masak. Bisa ditambah black pepper kalau suka (aku enggak, jadi nggak pakai). Aduk rata, lalu kukus selama 15 menit. Matikan api, lalu sisihkan.
  • Sayuran Kukus: Kukus sayuran beku diatas air mendidih selama 5-10 menit atau hingga tingkat keempukan yang diinginkan. Angkat, lalu sajikan bersama Mac&Cheese.
Lebih enak kalau...
disantap hangat bersama teh hijau dingin.
Tentang buncis di Sayuran Beku. Buncis itu yang paling lama matang-nya kalau diolah. Jadi saat dikukus, kalau nunggu buncis empuk, ntar wortelnya keburu jelek. Oleh karena itu, aku sengaja menyingkirkan buncis-nya untuk resep ini.
Kalau kerasa agak bland, well...aku sih memang mengurangi konsumsi garam dan rada anti dengan yang namanya saus, jadi nggak bisa memastikan, tapi mungkin oke kalau dimakan dengan saus pasta. 

Disclaimer:
please refer to me and this blog